October 18, 2013

Bapak Pucung


Masih inget gak sih dengan binatang kecil nan lucu yang satu ini? Saya biasa menyebutnya bapak pucung.. entah apa nama latinnya :P

Dulu, waktu saya masih kecil, saya hobi bermain bersama bapak pucung. Sebelum main, saya biasanya berlari-lari kecil menuju rerumputan dan tanaman liar yang tumbuh merawa saking lebatnya, dan disana saya menemui keluarga besar bapak pucung. Bapak, Ibu, anak, pakdhe, budhe, kakek, nenek, semua berderet deret merayap dari satu daun ke daun lain. Dan saya biasanya memungut satu yang paling besar,
kemudian saya letakkan pada telapak tangan saya, dan saya siap untuk bermain dengan teman-teman sebaya sambil membawa bapak pucung. Baru nyadar betapa jahatnya saya.. memisahkan satu anggota bapak pucung dengan keluarganya..


“Maafkan aku bapak pucung..

itu karena aku gemas padamu.. :-* “

Dan hari ini tiba-tiba saya teringat akan kenangan masa kecil saya. Ceria, bikin kangen, penuh dengan petualangan khas anak-anak dengan warna-warninya :) . Satu hal yang membanggakan ketika saya masih anak-anak adalah bahwa walaupun saya bertubuh mungil, namun saya biasanya yang dijadikan ketua, pimpinan dan yang paling ditakuti dalam satu kelompok bermain, dulu nyebutnya ‘geng’ [genggong maksud lo?]. Teman-teman saya kebanyakan lebih besar daripada saya, namun selalu ‘menuakan’ saya. Saya yang bertugas mengatur main apa hari ini, beli jajan apa hari ini.. dsb.

Dulu seringnya beli jajan-jajan patungan, kemudian saling sharing. Atau yang paling ekstrim, saya memimpin pencurian beberapa singkong di kebun singkong milik tetangga sebelah rumah.. hwahahaha :) ) gile! cewek apa bukan saya ini. Dan.. karena kita masih anak-anak dengan peralatan terbatas, akhirnya.. proses pencolongan singkong hanya mampu dilakukan dengan mencabut singkong, dan menaruhnya begitu saja. Padahal saya yakin tetangga saya tahu itu, namun beliau diam saja.. dan lebih memilih membiarkan saya menikmati kegembiraan ‘mencuri’ singkongnya, yang waktu itu kami pikir hebat dan berani. Wii.. sebuah misi besar berhasil dijalankan. Alhasil.. kebun singkong tetangga jadi kacau. Hahahaha :) )

Setelah berhasil memperoleh singkong-singkong tidak halal itu, kami segera menyalakan api dan memanggang singkong-singkong hasil ‘curian’ :P . Entah sudah matang beneran, atau karena kami semua lapar, kami-pun memakan dengan lahap. Gak peduli mulut dan gigi kami jadi hitam karena abunya.. hmm, masa kanak-kanak yang indah.. :)

Well then, setiap sore kami main benteng-bentengan. Ya, karena saya yang selalu dijadikan ketua, maka banyak dari teman-teman kecil saya yang ingin jadi satu grup dengan saya. Kasian mereka yang menjadi kaum minoritas, kekurangan anggota. Ini hal yang sedikit sulit, karena saya harus memilih siapa saja yang akan menjadi anggota saya, dan membuang beberapa untuk anggota lawan. Haduuh, kan gak enak jadinya, kalau kita ngeluarin satu atau dua orang, dikiranya kita gak suka sama mereka… hehehe, that’s what I call the jolly on my childhood :)

Back to the fact bahwa saya yang selalu dijadikan panutan, suri tauladan bagi handai taulan [hallah], ada kejadian lucu suatu hari. Saat itu saya hanya sedang bermain dengan dua teman saya. Let’s call her Sulfia [she's a nurse at the moment] and Vika [she's a housewife at the moment]. Kami bermain sambil berlari-lari di atas teras rumah saya. Saya berlari di sebelah Sulfia, sedangkan Vika berlari agak jauh dari kami. Tanpa sengaja, saya menyenggol kaki Sulfia sampai ia terperosok, dan mukanya yang nyampe’ duluan ke lantai. Alhasil.. berdarahlah bibirnya. Saya ketakutan dan merasa bersalah, mencoba menenangkannya, demikian juga Vika. Saya buru-buru mengambil oba luka dan kapas. And you know what? Because of her loyalty and fear of me, dia malah menuduh Fika yang menyenggol kaki-nya hingga terjatuh. Padahal jelas-jelas saya yang ada disampingnya, dan Vika berlari agak jauh dari kami. Vika yang dituduh gak bisa bilang apa-apa kecuali ‘enggak.. enggak.. bukan aku.. bukan aku’ dan ia-pun gak berani menyebut nama saya sebagai tersangka utama, hehehe, good job girl.

Nah, saya merasa di atas angin, dan tentu saja saya tidak mengakui sebagai tersangka. Saya diam saja, pura-pura bego. Padahal yeee.. nenek-nenek peyot nangkring di pohon-pun tahu bahwa saya-lah yang menyenggol kakinya. Dan akibat jatuhnya itu, bibir Sulfia yang sobek harus dijahit. Entah berapa jahitan.. :/

“maafkan aku Sulfia.. yang gak mengakui kesalahan.. hiks. Kini kamu bisa mengobati luka-mu sendiri karena kamu seorang perawat bukan?” :)



Tiap sore, saya mendengarkan acara anak-anak. Waktu itu ada klab-klib [Dhea Ananda], Tralala Trilili [Agnes Monica], Kring-Kring Olala [Melisa Grace], Ci Luk Ba [Maissy].. mmm apa lagi ya. Favorit saya adalah trio kwek-kwek dan Enno Lerian hihihi.. hapal banget pokoknya, kalau nyanyi lagu anak-anak. Mulai dari Trio Kwek-kwek, Agnes Monica, Joshua, Enno Lerian, Chikita Meidy, Dhea Ananda, semua bisa. Kalau anak-anak zaman sekarang mah nyanyi-nya lagu Syahrini, 7Icons, Mulan Jameela sampai Peter Pan, gimana mau nyanyi lagu anak-anak.. lagu anak-anak dan penyanyi cilik udah musnah ditelan zaman.. masih ada sih beberapa penyanyi cilik, tapi gak kedengeran gaungnya. :( So sad..

Jadi ingat kakek saya yang sudah almarhum. Setiap pagi selalu bermain dengan saya, menyuruh saya melakukan sesuatu, seperti mimejit punggungnya, memijit kepalanya, dan ketika saya telah berhasil melakukannya, beliau selalu menyuruh saya membeli Fuji Mie. Yes, itu jajan zaman dulu bangeeettt, bungkusnya warna merah, isinya mie kering *nyam nyam nyam*. Lalu kami memakannya berdua, ya berdua saja.. sangat akrab dan hangat. Hmm.. kakek saya orang yang baik dan penyabar disamping gagah, tinggi dan tampan di masa mudanya. Pantas nenek saya tergila-gila, So sad that I didn’t even have a picture of him :( . Beliau meninggal pada tahun 1994, ketika saya masih SD. Saya ingat sekali waktu itu, saya bermain di rumah Sulfia, dan tiba-tiba para tetangga menyemut berbondong-bondong ke rumah kakek saya yang berada tepat di sebelah rumah saya. Saya kaget, dan bingung sekaligus bertanya-tanya ‘ngapain orang-orang ke rumah kakek’. Yang saya tahu, kakek sedang masuk angin dari tadi malam.

Dan tetangga saya yang lain, sekaligus sahabat Ibu saya tiba-tiba menggendong saya, dan membisikkan pada saya…

‘Mbah Aguslan meninggal…’

There’s nothing but I was so.. speechless, speechless that all I can do is crying like a river… he’s my best friend, we shared many things, we had warm and great moments everyday, he taught me how to do something, and he introduced me the meaning of sweet and bitter, he taught me to laugh, to utter, and he was the one who call me ‘Taying’, ‘Unying’ or ‘Naying’.. yes, he used to call me so. And I use the nickname ‘Taying’ until present. And he was the one who introduced me to Bapak Pucung, he was the one who taught me to play with Bapak Pucung. And whenever I saw Bapak Pucung, I just remember him… my first best friend. And now he cannot watch me grow up, he cannot laugh with me when I’m getting older. But well, you’re now watching from above, somewhere over the rainbow.

Well I miss my childhood as well as I miss my grandpa, my childhood best friend ever…