December 10, 2015

Kelas Inspirasi Mojokerto 2: The Awe-Inspiring Experience To Remember

"Ada rasa penasaran yang sulit diungkapkan. Anda nggak akan tahu rasa itu sebelum anda mencobanya sendiri. Sekali ikut, pasti tahun depan pingin ikut lagi."

 

Itu kata salah satu teman se-rombel (rombongan belajar) pada evaluasi kegiatan mengajar di Kelas Inspirasi Mojokerto 2, 9 Nopember lalu. Pun kata teman-teman yang lain, Kelas Inspirasi itu bagai candu.

Waktu itu saya bergumam dalam hati "Masa sih?", karena yang saya rasakan capek setelah mengajar dari pagi mruput di Kelas Inspirasi Mojokerto 2. Nggak bisa dipungkiri sih, ada rasa senang, bahagia karena bisa berbagi dengan adik-adik yang mungkin sekolahnya nggak sebagus sekolah kita dulu, yang lokasinya ada di pinggiran atau daerah yang sulit dijangkau. Ada rasa haru menyeruak ketika saya bisa membantu menggenggam cita-cita mereka, agar mereka gak menyerah begitu saja untuk mengejar mimpinya. Dan akhirnya sadar kalau profesi guru SD itu capeknya luar biasa, salut untuk para guru SD! :)

Kelas Inspirasi adalah gerakan mengajar sehari bagi para profesional untuk berbagi ilmu tentang profesi masing-masing inspirator. Ada yang berprofesi sebagai dokter gigi, fotografer, wartawan, penari, analis, auditor, koki dan masih banyak lagi. Saya sendiri kali ini memperkenalkan profesi Penerjemah atau Translator.

Ehem, yang ingin bergabung di Kelas Inspirasi Mojokerto, bisa klik link ini yaaa... Atau yang ingin tahu, Kelas Inspirasi itu gerakan seperti apa, bisa klik link ini.

Udah berapa tahun nggak upacara bendera hayo?
Ini pertama kalinya bagi saya berpartisipasi di Kelas Inspirasi Mojokerto. Saya kebagian mengajar di SDN Suru, Kecamatan Dawar Blandong, Kabupaten Mojokerto yang punya sekitar 75 murid dari kelas 1 hingga 6. Pertama menjejakkan kaki di area SDN Suru rasanya campur aduk. Ada haru, nervous dan senang tentunya. Pertama kali yang terlintas dalam hati: "Aduh, ada upacara bendera. Mana udah udah lupa caranya lagi..." :D

Saya kebagian mengajar kelas 4 di jam pertama, kelas 3 di jam ke 2, dan kelas 2 + kelas 1 (digabung) di jam terakhir. And you know what? Mengajar kelas 2 dan 1 - umur yang notabene masih masa peralihan dari TK ke SD, plus mengajar di jam bodoh (jam terakhir, jam ngantuk-ngantuknya dan capek-capeknya) itu sangat tidak mudah. Cukup bikin pusing dan suara serak. 



Nah itu dia, suasana yang kurang kondusif karena jam terakhir (mereka udah pada teriak "buuuu laperr" -asal nggak baper yaa :P atau "buuu pulang") bikin lumayan puyeng. Ya sudahlah, akhirnya kelas saya isi dengan MENDONGENG dan BERNYANYI sambil selonjoran. Kece kaan? Lebih enak lagi kalau ada guling sama bantal sih :)

Syukurlah Bu Tari bawa boneka dan suka nyanyi *apalagi kalau ada mic :P

Dan yang bikin ngakak adalah, untuk menarik perhatian mereka, selalu saya awali dengan kalimat tanya sambil teriak:
"Siapa yang mau denger cerita Toby sama Anya??" oke, sampai di sini pertanyaan masih normal. Cerita Toby dari Amerika yang nyasar ke Dawar dan ketemu Anya. Bersambung.

"Siapa yang mau denger cerita Toby sama Anya pergi beli buah ke pasaaaar??" Ini mulai rada ngaco. Niatnya mau ngenalin nama buah dalam bahasa Inggris. Tapi kok kedengerannya kaya dongeng nggak mutu ya? hahaha. Bersambung.

"Siapa yang mau denger cerita Toby sama Anya pergi ke Kebun Binatang??" Ini juga rada ngaco. Niatnya mau ngenalin nama hewan dalam bahasa Inggris. Tamat.

Ya, cerita Toby dan Anya sudah tamat. Mereka capek jalan-jalan. Trus?
"Siapa yang pernah ke kebun binatang?"
"Di kebun binatang ketemu binatang apa saja?"
"Siapa yang pernah ketemu harimau?"
Pertanyaan macam apa ini?? Ini saking frustasinya saya, materi banyak yg ingin disampaikan tapi demi menjaga mood bocah-bocah polos ini, akhirnya harus dienggokkan menjadi lebih menarik bagi anak-anak. 

Mereka dengan suka rela minta dihukum nyanyi :)
Dan 15 menit terakhir diisi dengan MENYANYI. Sama! Ini juga saking bingungnya saya karena sebagian siswa sudah lari-lari keliling kelas. Suara udah serak, 80% anak-anak masih mendengarkan, 20% udah berlarian nggak beraturan. Bikin gurunya keki :D.

Ngeliat antusisasme mereka, pala puyeng ilang deh.
Tapi, antusiasme mereka, binar mata penuh semangat dan gelak tawa khas anak-anak itu yang paling JUARA! Seneng banget ketika ternyata mereka antusias dengan materi yang kita sampaikan. Plus, pihak sekolah yang sangat-sangat hangat dan ramah menerima kami. Ahh, Jadi pingin ikutan lagi kan?

Anyway, sedikit hal menyedihkan sekaligus mengharukan *pingin nangis ini.
Ketika saya bertanya pada siswa kelas 3:
Saya: "Cita-citanya mau jadi apa?"
A: "Dokter gigi buuu"
Saya:"Baguuus"

Saya: "Kalau kamu, cita-citanya mau jadi apa?"
B: "Dokter gigi bu"
Saya: "Baguuss.. satu kelas mau jadi dokter gigi ini ya? Baguuus"
Dalam hati bergumam: ini pasti habis diajar sama bu dokter gigi, makanya satu kelas cita-citanya mau jadi dokter gigi.

Cita-citamu apa nak?
Menjelang akhir kegiatan, ketika menulis nama dan cita-cita di belakang pin untuk siswa.
Saya: "Cita-citanya mau jadi apa?"
C: "Foto bu.."
Saya: "Fotografer maksudnya?"
C: "Iya bu.."

Saya: "Cita-citanya mau jadi apa?"
D: "Fotograper bu.."

Saya: "Cita-citanya mau jadi apa?"
E: "Potograper bu.."
*Keselek bolpen.
Oke, ini pasti habis diajar sama Fotografer.

Trus, kok nggak ada yang pingin jadi Translator kaya saya? Huhuhu. Lalu saya dianggap aphhaaa?? *nangis geru-geru.


***
 

Well, memang ada rasa penasaran yang entah apa itu. Ingin mengulang kembali keceriaan, melihat kembali senyum mereka, menyaksikan Jerry yang dengan polosnya menggosok gigi gigisnya, atau Raffa yang 'aktif'nya minta ampun, alias nggak bisa diem, dan nyaris  nggak  mau mendengarkan kita para inspirator - kecuali jika disisipkan sedikit ancaman "Yang nggak mau duduk, nanti gak dapet susu..." seperti itu kami berseru.

Tahun depan, akan ketemu Jerry-Jerry dan Raffa-Raffa yang lain; pengalaman yang lebih seru, dan mungkin perjalanan yang lebih menantang? Who knows? :)

Jadi gimana? tahun depan ikut lagi?
Kali ini saya jawab dengan lantang "Mau banget!"
Dan saya janji, akan lebih well-prepared tahun depan. Pengakuan dosa: Saya kurang mempersiapkan materi dan media karena jadwal yang lumayan full, kejar-kejaran dengan deadline kerjaan... hehe *alasan memang ada aja ya*.


***
It was an awe-inspiring experience to remember :")
Terimakasih untuk Kepala Sekolah, Rekan Guru, Staff, siswa-siswi SDN Suru Dawar Blandong - Kab. Mojokerto, teman-teman inspirator, fasilitator dan dokumentator Rombel 8. Kalian mengispirasi saya. Kalian Luar Biasssaaaaa!!

***