September 07, 2014

Untuk Jasmine

Untuk Jasmine
Malam ini saya menjenguk saudara sepupu - si Veni - yang lagi sakit. Sambil bawa Tabina bermain-main di halaman rumahnya, si Ega (adik Veni) datang menggendong batita cantik, seusia Tabina mungkin, atau lebih tua.

Jasmine namanya.. yap! namanya secantik wajahnya. Cantiknya seperti anak selebritis, putih, hidungnya lebih mancung dari Tabina, bibirnya tipis nan mungil, senyum tersungging di wajahnya yang ceria, dua mata bulat membuatnya semakin menawan. *eh tetiba kok rada mellow eke??. Entah kenapa* Pertama kali bertemu, ia sudah memanah hati saya. Dengan cerewetnya, ia menggodai Tabina "adeeek cilukbaaa, adeeek cilukbaaaa" sembari membuka dua telapak tangan yang ia tutupkan di depan matanya.

Dalam hati saya nih ya.. "Nih anak cantik cantik kok gak terawat ya? Ibunya gimana nih?". Gimana saya gak berpikir demikian, daripada terlihat seperti batita yg terawat, cantik dan wangi, saya melihat mukanya coreng moreng karena spidol. Mukanya dicoret-coret bak kucing, iya.. kucing. Di pipi kanan kirinya ada masing-masing 3 kumis, di dahinya ada beberapa coretan, di janggutnya juga. I just wonder who the hell did this to you honey? If this happened to Tabina, I won't let the doer stay alive *hallah lebay*. Kakinya kotor bernoda tanah. Iya, dia sepertinya beraktivitas seharian di luar rumah tanpa alas kaki. Celana pendek yg ia pakai bolong-bolong. Kaos putihnya sedikit lusuh. Duh naaakkk ibumu mana sih? Kok kamu dibiarin kaya gini.. :( *sakit hati ini melihatnya*

Belum selesai saya berantem sama suara hati, si Ega nyeletuk "Awas mbak, Tabina jangan dideket-deketin Jasmine. Ini tukang gigit. Anak cul-cul-an dia". You know wht the meaning with 'anak cul-cul-an is?'.. well, dalam konteks  ini, anak cul-cul-an means, gak ada yg ngerawat, gak ada yg ngurusin, gak keurus. Saya melihat dua binar matanya yang masih bercanda-canda dengan Tabina dengan tatapan nanar. Oalaah nduuk nduuk, malangnya nasibmu. Nyesek!

Sejurus kemudian saya mendengar banyak cerita dari dalam rumah tentang si kecil Jasmine. Ibunya, yg notabene anak tunggal nan cantik rupawan dari keluarga kaya di Surabaya - menikah dengan ayah jasmine yg orang Mojokerto dalam kondisi hamil duluan. Entah itu benih ayah Jasmine atau orang lain.. yang pasti sejak mereka menikah, gak pernah mereka tinggal bareng. Ya.. tinggal nunggu si baby keluar untuk kemudian berpisah alias divorce. Mmm, mirip mirip cerita sinetron ye.. :D. Setelah Jasmine lahir, keduanya bercerai, kabarnya si ayah gak tahan dengan perilaku istrinya yg "bitchy". To make it short, Ibunya kembali ke Surabaya, bekerja sbg pramugari, Jasmine ditinggal di sini, ayahnya nikah lagi - dan Jadilah Jasmine tinggal dengan neneknya. Si Ibu hampir gak pernah mengunjungi anaknya lagi, dan si ayah sudah sibuk dengan keluarga barunya. Jasmiiine.. I heart you nduk, Allah wrote this life story for you to make you stronger than anyone else. Pingin nangis rasanya denger cerita tentang Jasmine. Yg saya herankan adalah, kok yaaaa ada yg ibu yg tega ninggal anaknya seperti ini. Dimana naluri keibuannya? Bagaimana nanti ia ingin dikenang oleh Jasmine, putri kecilnya ini?

Dalan hati yang sangat nyesek, saya bertarung dengan naluri yg penuh dengan perntanyaan.

"Jasmine..
Bagaimana nanti kamu akan mengenang Ibumu? Akan sebagai apa kamu mengenangnya? Sebagai sosok yg baikkah? burukkah? aaah, atau bahkan kamu sudah lupa kalau mempunyai seorang ibu? atau kamu masih ingat bagaimana ia merawatmu di hari-hari awalmu di dunia? Masih ingat dengan wajahnya? Bahkan sekecil ini kamu sudah kehilangannya.. bukan! bukan kehilangannya karena kematian. Tapi kehilangannya karena ia yg menginginkannya... Ia bisa saja terus bersamamu setiap saat, ia bisa saja menyeka air matamu ketika km sangat lapar dan ingin menyusu, ia bisa saja memeluk dan menimangmu hingga tertidur. JIKA IA MAU. Tapi ia memutuskan untuk tidak...

Aku hanya 'sakit' melihatmu seperti ini nak. Aku sakit dan malu sebagai seorang wanita yg sama seperti ibumu, memiliki anak perempuan seusiamu dan meninggalkanmu sendiri, mengacuhkan eksistensimu. Jasmine, bagaimana nanti kamu akan bertanya pada nenek tentang Ibumu? apakah nanti kamu akan bertanya 'Nek, ibuku dimana?', atau apa yg akan kamu lakukan ketika teman-temanmu bertanya tentang keberadaan ibumu? atau irikah kamu ketika melihat teman-temanmu bersama ibunya, sedangkan kamu tidak?

Jasmine..
Bagaimanapu Ibumu, kenanglah ia sebagai ibu yang baik. Ibu yang membawamu selama 9 bulan di perutnya. Wanita yg merasakan pahit manis, senang dan sedih ketika kamu di rahimnya. Wanita yang berjuang separuh jiwanya untuk melahirkanmu. Bagaimanapun sakitnya kamu ditinggalkan, bagaimanapun sakitnya kamu ketika membutuhkan peluknya dan ia tiada. Betapa terlukanya kamu ketika ia tak pernah ada di sampingmu hingga kamu tumbuh dewasa, betapa terlukanya kamu ketika tahu ia mengingkari keberadaanmu, menganggapmu tiada. Kenanglah ia sebagai ibu yg baik...

1 hal lagi Jasmine..
Apa ia tidak merindukanmu? Sama sekali?"

---
Kalau saya sih pinginnya bisa kaya gini terus sampai tua.. meluk Tabina terus sampai maut memisahkan :)

Ketika menulis ini,
Dua alis saya kian menegang, membentuk garis lurus yang saling bersinggungan. Dan pikiran yang melayang layang tak bisa dibendung tentang Jasmine.

Ya sudahlah, mari kita belajar dari Jasmine. Makhluk kecil yang tak berdosa itu. Semoga Allah selalu memberinya berkah, memberinya jalan yg baik, memberinya kelapangan hati, keikhlasan dan lautan sabar yg super dalam... amiin YRA.

Semoga kelak saya bisa membangun tempat berteduh dan memberikan kasih sayang untuk Jasmine Jasmine yg lain. Amiiin

Have a great Monday anyone..

Mau bobo dulu :)